Hukum Rimba Hanya Berlaku di Hutan: Benarkah?

Hukum rimba adalah hukum yang berlaku bagi para binatang atau hewan-hewan yang hidup di hutan. Prinsip dari hukum ini adalah Siapa yang kuat dia yang menang. Hewan yang kuat akan mengalahkan yang lemah. Sedangkan hewan yang lemah akan menjadi santapan hewan kuat.

Siapakah yang memberikan sebutan hukum rimba? Tentunya manusia. Lalu siapakah yang memberlakukan? Pemberlakunya adalah Alam. Sehingga hukum forest juga disebut hukum alam.

hukum rimba

Hukum rimba di luar rimba

Hewan-hewan ternak yang hidup di kampung juga menerima aturan hukum belantara ini. Ayam mematuk hewan yang lebih kecil. Bahkan kucing memangsa tikus karena tikus lebih kecil. Padahal kucing juga doyan daging sapi. Namun karena sapi lebih besar dan kuat, maka kucing takut. Itu merupakan hukum hutan yang terjadi di kampung.

Jadi ternyata hukum rimba tidak hanya berlaku di hutan saja, tetapi juga di kampung atau bahkan hewan-hewan di dalam rumah seperti cicak, nyamuk, lalat dan sebagainya.

Hukum rimba antar negara

Negara yang lebih kuat akan meng-hegemoni negara yang lemah. Menjadikan negara lemah sebagai wilayah jajahan. Bahkan sesama negara merdeka juga melakukan diskriminasi apabila dirinya merasa kuat. Itu juga merupakan praktek dari hukum rimba.

Ternyata hukum belantara tidak hanya berlaku bagi para binatang, tetapi juga berlaku bagi suatu negara.

Hukum semak belukar di dalam hukum

Untuk mendapatkan keadilan, maka manusia menciptakan hukum. Hukum buatan manusia ini bertujuan agar pihak yang kuat tidak menindas pihak yang lemah. Sehingga setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di depan hukum, tidak memandang si kuat atau si lemah.

Namun, ternyata di dalam diri para anggota penegak hukum terkadang juga masih terpapar hukum rimba. Hal ini terbukti dengan adanya pelaku-pelaku arogansi yang tertangkap dan mendapat julukan oknum.

Baca juga  Tumbal Pesugihan Pabrik Gula Pembukaan Giling Tebu: Benarkah Ada?

Institusi hukum yang sejatinya adil, namun beranggotakan beberapa harimau dan serigala. Akibatnya hukum bisa ter-barter dengan daging rusa. Siapa yang berduit dialah yang menang.

Hukum belantara di dalam diri pribadi

Di dalam jiwa manusia terdapat hawa nafsu yang saling beradu kekuatan. Siapa yag kuat maka dia yang menang. Umumnya yang menang adalah nafsu keserakahan, gila harta dan gila kuasa.

Lalu kemana si hawa nafsu lainnya meminta keadilan? Tentunya kepada diri manusia itu sendiri. Jika seseorang tidak mau ada hukum rimba di dalam dirinya, maka ia harus bisa mengadili hawa nafsunya sendiri.

Bagaimana cara mengadili hawa nafsu sendiri? Berikan hak dan kewajiban sesuai dengan porsinya masing-masing. Hawa nafsu baik jika berlebihan maka akan menjadi buruk. Begitu pula sebaliknya.

Namun, sesungguhnya hawa nafsu itu tidak ada yang baik dan buruk. Semua hawa nafsu itu sama. Yang membuatnya baik dan buruk adalah pemberian porsi yang tidak semestinya. Sehingga terjadi hukum rimba pada diri sendiri, yang akhirnya berdampak tidak adil kepada diri sendiri apalagi kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *